Keadaan makin sunyi. Tangan-tangan gratil, leher yang kadang berpegas sendiri, berputar layaknya burung hantu yang menjaga malam, pupil mata yang membesar dengan sendirinya, kadang-kadang fokus pada kertas-kertas di meja lain, kini keramaian itu telah sirna, hilang tanpa jejak, hilang tak peduli. Guru yang kembali dari toilet memberikan aba-aba peringatan kepada semua siswa di ruang kelas yang tengah melaksanakan kuis pelajaran akuntansi. Ruang yang tadinya penuh dengan keindahan di pantai eksotis, bunga di pojok ruangan yang menghiasi bagai alam sejuk, poto-poto yang terpajang di dinding bagai laksana penjaga yang mengamankan santai bersama. kini berubah sejenak menjadi penjara panas, penuh dengan pengawasan bengis setelah ibu Vada guru akuntansi yang mengawasi.
Seorang siswi bangkit, berjalan perlahan menuju meja guru, tangan kirinya menggenggam secarik kertas, di balik genggaman tangan kirinya terdapat pena hitam

